Penggunaan Neorealisme Pada Penyutradaan Film “Man Belo”
Keywords:
Penyutradaraan, Neorealisme, Belo(sirih)Abstract
Penelitian ini dilatar belakangi dengan keresahan yang dialami oleh penulis, dalam lingkungan keluarganya penulis dipaksa untuk mau mengikuti semua adat jawa yang telah menjadi kebiasaan yang wajib untuk diikuti olehnya, akan tetapi penulis selalu menolak hal itu sampai pada akhirnya penulis mencari cerita yang sama dengan adat yang berbeda yaitu Man Belo atau Makan Sirih dan penulis menggunakan teori Neorealisme yang dapat mendefinisikan dari cerita asli. Penelitian ini bertujuan untuk membangkitkan gaya Neorealisme pada kaca perfilman, karya seni penyutradraan film Man Belo bertujuan untuk memberikan hiburan dan edukasi bagi masyarakat umum tentang kebiasaan/tradisi yang sering dilakukan masyarakat Indonesia. pengkarya menggunakan gaya Neorelaisme untuk menghadirkan realita yang terjadi di masyarakat tentang kebiasaan/tradisi menyirih.Objek penciptaan karya film ini adalah tentang seorang mamak yang mendapatkan amanah dari Ma Tua (abang kandung) untuk menyampaikan kepada anaknya
agar mau Man Belo (Makan Sirih) namun selalu dapat penolakan dari sang anak sampai pada hari dimana Ma Tua yang langsung menasehati sang anak agar mau memakan sirih. Penciptaan karya ini ditekankan konsep penyutradaraan dengan gaya Neorealisme. gerakan Neorealisme adalah gaya yang menampilakan realita kehidupan dimasyarakat. Biasanya gaya neorealisme menggunakan non-aktor, lokasi yang sesuai cerita, pencahayaan yang natural, pergerakan kamera yang tidak statis, dan cerita dalam film harus sesuai dengan realita inilah yang menjadi konsep teknik pada penyutradraan menggunakan gaya Neorealisme.